Sunday, January 31, 2016

3088 MDPL

Melihat-melihat video dokumenter di youtube sebagai pengisi waktu begadang, tiba-tiba kok yah pingin ngetik tentang pendakian Argopuro. Disawang-sawang kok jadi terbawa suasana.
Jadi teringat setahun lalu “mencoba” melakukan perjalanan yang tanpa perencanaan sama sekali, hanya satu orang yang pernah kesana dari kami berempat. Saya pribadi sih merasa kepepet waktu kerja dulu. Dan dengan sedikit modal nekat, byasae lha arek suroboyo rekk… akhirnya motor ku parkir bis pun ku tumpangi.

Waktu
Berbicara waktu yang ditempuh, harus juga disesuaikan dengan jadwal penyambung uang. Yakni selasa berangkat dan jum’at malam harus sudah harus kerja lagi. Alhamdulillah wa syukurillah, waktu tepat sesuai jadwal, dan kami berempat berhasil foto-foto di puncak Argopuro. Start pos perijinan selasa pagi, sampai puncak kamis siang, finish pos perijinan jum’at siang. Dari Banderan (Situbondo) sampai Bremi (Probolinggo) ditempuh mlaku, nek gak wong sing pingin foto-foto gak koyok ngunu.

Logistik
Eits, mundur sedikit ke logistik yang kami bawa. Bodohnya, logistik baru ketahuan kalau hanya membawa kurang dari 10 mie instan, kopi, gula, beras, beberapa permen, dan cukup seingatku hanya itu saja. Serba kekurangan. Kalau dalam ilmu manajemen iki ora masuk blas, apa lagi kalau ketauan anak-anak pendaki wah bisa-bisa dibully. Ampun om aku cuman pingin selfie. Kembali lagi ke pembahasan logistik nggeh. Dan alhasil, penghematan makanan terjadi. Ikat pinggang harus dikencangkan. Air minum juga harus menggenang di lambung. Untuk pencukupan gaya “keterpaksaan” hidup hemat, menggunakan alternatif makanan sebagai asupan perut lainnya, yakni jamur-jamuran, selada air, dan alhamdulillah sekali para pendaki lain meninggalkan sampahnya, hingga sampah-sampah yang layak santap pun kami masak juga.

Syukurnya, 1 teman gak mau makan. Jadi dapat mengurangi jatah makan kami berempat. Dan untungnya lagi, kekurangan logistik kami tidak seperti di film-film, yang kelaparan dan harus makan bangkai temannya yang lain. Kan serem. Setelah hari terakhir dilalui, akhirnya telinga kami mendengar adzan dari kejauhan masih dalam hutan, dan itu adzan sholat jum’at, yeee kami gak sholat jum’at. Segitulah, sampai di warung kami mengadakan balas dendam habis-habisan, hingga tenggorokan susah menelan. Bahkan entah imajinasinya yang bagus, 1 teman tadi yang gak mau makan, saat masih berada di dalam perkebunan, bau bawang putih dikiranya aroma bakso. Bakso endasmu kono.

Mistis
Dimana pun, kalau gak bawa oleh-oleh mistis gak seru. Enggeh mboten ?? dan ternyata 1 teman sebut Reggae yang tak mau makan tadi ternyata ada pengalaman seyeem. Saat berjalan tengah hutan, malam hari, selepas isyak kira-kira, ia melihat sesosok mirip dirinya berlari menjauh, si Reggae ini harusnya kelelahan tapi malah berlari mengejar, jalan nanjak pula. Omegot. Dan disaat waktu, tempat, momen yang sama. Saya pribadi saat melewati pohon besar yang tumbang, terpaksa naik melewati pohon tersebut dan istirahat sebentar di atasnya. Naudzubillah, bau busuk berseliweran, hawanya langsung panas. Dan tiba-tiba Reggae melakukan aksinya mengejar “Reggae2nd” yang saya jelaskan di atas.
Saat ngecamp hari terakhir di Danau Taman Hidup. Tidur-tidur, besok pulang. Keesokannya si Reggae berulah lagi saat baru bangun, katanya ada suara orang dirikan tenda di sebelah. Kan aku yah merinding toh, aku yah ngimpi ada orang dirikan tenda di samping. Aku penasaran lah, ku buka tenda dan eng ing eng. Seperti yang diduga, gak ada siapa-siapa, gak ada apa-apa, dan gak ada tenda yang gimana-gimana. Dan emang gunung Argopuro ini tergolong sepi, dan bukan bertepatan liburan juga.

Keindahan
Cerita tentang masalah logistik dan mistik di atas, kita enyahkan lah, itu pengalaman masing-masing. Dan pengalaman setiap orang dari Argopuro adalah savana/sabana/padang rumput yang membawa energi kekuatan aura penambah positif, bahkan ekstra joss pun kalah, begitu menurutku. Saat yang lain beristirahat di pohon bagai payung teduh. Tebak aku sedang apa ?? teeeeettt… yah berlari-lari di padang rumput yang sejuk, dan mengapa saya bilang savananya membawa energi kekuatan aura penambah positif. Karena saat aku berlari-lari tak merasa payahnya lah saye nih. Betul nak saye cakap nih.
Keindahan barisan bukit, padang rumputnya, air sungainya yang sejuk, danau taman hidup, jalur pesawat cikasur, bangunan cikasur, pinus-pinus, cemara-cemara, babi hutan berkeliaran, suara-suara merak, rusa yang berlarian, hewan-hewan primata, tumbuhan gatal biasa disebut tumbuhan “jancok”, burung-burung kecil, kelabang-kelabang di danau taman hidup, ratusan cacing membusuk di tengah jalur setapak, dan juga entah hewan atau apa yang berbunyi di balik rerumputan saat malam menemani perjalanan kami.

Kelucuan
Satu penutup dari cerita ini adalah, sebuah penghematan kepada uang. Saat melakukan pendaftaran, kami melakukan strategi dan simulasi bak perampok di tanah orang. Kami berempat berniat hanya membayar untuk 2 orang, dan sisanya sudah menunggu di hutan. Dan untuk beberapa menit rencana kami berhasil dengan penghematan gaya model lama. Namun, saat tracking tiba-tiba ada yang memanggil dari jauh. Ternyata ia sosok paling seram dan lucu, mengejar dari pos pendakian dengan masih terengah-engah nafas hampir habis, sembari memarahi kami karna hanya membayar separuh dari 4 orang yang ada. Kami dimarahi, dinasehati, direndahkan, dicampakkan, dikhianati, diduakan, dan LEBAY. Akhirnya kami membayar sesuai harga 4 orang saat itu.

Tindakan kami cukup beralasan, dikarenakan katanya tiket di pos habis, jadi kami harus membayar namun tidak ada bukti pembayaran berupa tiket masuk. Alhasil, kami tidak ada kenang-kenangan tiket pos Argopuro.
Pesan Moral
Naik gunung itu capek. Sumpah. Temenan aku iki. Ora mbujuk.
---------------------------------
Foto-fotonya taun lalu gan. No Pict Hoax jarene.

No comments:

Post a Comment